Semangat sampe akhir hidup itu PENTING ya…Mari Berbagi Kebaikan!

wot arda_sothie wanna say….'bout evrythin'

Campus Centre ITB: Antara Puisi, Semangat Mahasiswa dan Ruang Tersembunyi Februari 17, 2010

 PART I>> PUISI (d’poem of cc)

Campus Centre ITB, bangunan berwarna dominan putih yang transparan berdindingkan kaca, terletak pada sumbu utama master plan ITB.  Modernitas. Arsitektur Internasional. Massanya berbentuk kotak, atapnya diberi kesan datar, kaca mengelilingi fasadenya. Sangat kontras dengan lingkungannya. Dari gerbang utama, berjalanlah lurus ke arah selatan, dengan iringan pepohonan boulevard kita akan sampai juga disana. Belum genap satu dasawarsa, ia berada di sana, begitu muda diantara saudara-saudaranya yang lain. Jika bangunan sekitarnya terpatri pada kesahajaan arsitektur yang khas tradisional Indonesia, dengan unsur atap yang dominan dan kolom-kolom dengan material batu kali,    maka ia berdiri dengan kesahajaan yang berangkat dari sisi kehidupan manusia yang lain. Konsep seperti apa yang mendasarinya?

Tampilannya pun tampak berbeda. Menurut Baskoro Tedjo  selaku arsitek utama dari bangunan tersebut -berdasarkan wawancara- Campus Centre direfleksikan menjadi gerbang ITB kedua setelah gerbang utama ITB yang terletak di sisi paling selatan -tengah. Yang menarik, gerbang utama dengan jam pada bagian atasnya serta sepasang atap penerima tanpa dinding berbentuk datar pada barat dan timur nya itu lantas menjadi inspirasi perancang dalam mendesain Campus Centre.

Maka Campus Centre dibuat menjadi dua sayap, barat dan timur dengan rotunda yang bentuk denahnya lingkaran. Pembagian seperti itu selain mengacu pada gerbang utama ITB juga didasari oleh konsep yang ingin sejalan dengan konsep dasar masterplan ITB yang sirkulasi utamanya bersumbu utara-selatan dan mengarah ke Tangkuban Perahu,  maka arah pandang ke arah Gunung Tangkuban Perahu tak boleh terhalang. Sebab itulah bangunan rotunda didesain sejajar dengan lantai area sirkulasi yang menjadi penghubung antara CC barat dan CC timur.

Mengenai pemilihan style modern pada bangunan di bagian perantara zona konservasi (utara) dan peralihan (tengah), menurut arsiteknya konsep Campus Centre sebagai gerbang kedua ITB memungkinkannya untuk tampak berbeda dengan lingkungan sekitar namun tetap kontekstual.

Dilihat dari sudut pandang pengkritisi, konsep CC indah untuk dicerna maknanya. Saat berjalan di boulevard, jika kita memandang ke utara, pandangan mata kita akan tertuju pada gunung tangkuban perahu dengan sepasang atap labtek kembar yang membingkainya dan menbuat mata kita fokus ke view di tengah. Lalu di mana bangunan CC-nya? Awalnya tak terlalu terlihat, di kanan kiri didominasi oleh pepohonan hijau. Tapi makin lama dan makin berjalan mendekati Tangkuban Perahu, akan terlihat atap datar CC sayap barat-timur membingkai keduanya. Bukan hanya Tangkuban Perahu, tetapi juga sepasang atap labtek kembar tersebut.

CC putih itu ‘bersembunyi’ di balik pepohonan seakan bercerita ‘Jangan lihat aku dahulu, silahkan lihat dahulu karya Sang Pencipta (bc: pohon dan gunung).’Ya, ternyata bangunan CC ini dibuat lebih mundur dari labtek kembar sehingga perpaduan ketiganya menjadi suatu pemandangan yang ‘berpuisi’ dan seperti akan mengatakan bahwa bangunan dengan semangat tradisional dan modern dapat berjalan beriringan, saling memyelimuti dan menguatkan karakter alam (Gunung Tangkuban Perahu) yang diciptakan Tuhan, Sang Satu,  bahwa arsitektur yang baik akan bersenandung berirama dengan segala sesuatu sekitarnya, alam, bangunan lain, manusia dan segala bentuk yang ada di lingkungannya dan dapat teraba oleh panca indera. Dan gabungan ketiganya menjadi salah satu sudut yang mampu mempresentasikan ITB.

Ternyata bangunan baru tidak harus ber-style sama dengan eksisting, dengan pendekatan kontras dapat pula dilakukan dan dihasilkan paduan desain yang menarik.

Dalam makalahnya, ‘Tradition and The Individual Talent’, T. S Elliot menekankan proses dalam seni dan menemukan nilai dalam tradisi. Elliot mengemukakan sebuah puisi tercipta dari keremajaan yang menemukan relasinya diantara individu dengan tradisi dengan komunitas intelektualnya. Sementara itu J.J Rousseau mengungkapkan bahwa mediasi diantara individu dan lingkungannya dengan mementingkan konteks dalam beraksi itu menjadi penting. Kebebasan moral yang tak teraba secara fisik diperoleh dengan interaksi dengan lingkungan, membuat manusia menjadi tuan atas dirinya sendiri.1

Jika dihubungkan dengan bangunan CC, ungkapan dua ahli tersebut dapat dimaknai sebagai penguatan dukungan atas perlunya CC sebagai individu untuk memperhatikan tradisi lingkungannya. Secara singkat menurut pengkritisi desain CC  telah dapat mengikuti tradisi sumbu utara selatan ITB, responsif terhadap eksisting sehingga ia mampu berdialog dengan komunitas di sekelilingnya.

 ‘Puisi’ yang lain yang diberikan bangunan CC tampak lebih terbaca pada malam hari. Saat langit gelap dan bangunan tersebut terang benderang karena penerangan di dalamnya yang tertembus sempurna karena dominasi material kacanya, ia bukan menerangi dirinya sendiri. Dirinya sering terlihat dari luar tak berisi manusia pada malam hari. Ia menerangi pepohonan sekitarnya yang telah berjasa memayunginya dari sinar matahari dan hujan dan membuat pepohonan tersebut terasa lebih hidup.

Elemen unik ‘terbaca’ sewaktu melintasi kedua sayap bangunan pada entrance tengahnya, akan terlihat ada sebuah kolom tinggi yang memecah dan membelah sirkulasi menjadi dua bagian. Menarik untuk dicermati karena sebagian besar perancang biasanya akan berpikir ke alternatif lain saat mengetahui kolom pada struktur bangunannya secara tidak sengaja terletak diantara entrance. Pemikiran tersebut seakan tidak berlaku pada CC, kolom sengaja diletakkan di tengah-tengah entrance. Alasannya? Terlewat saat wawancara dengan arsitek namun penulis berpendapat sebagai manusia beradab, jika akan masuk ke suatu rumah kita dianjurkan untuk terlebih dahulu meminta izin pada penghuninya. Ada kemungkinan bangunan ini juga menuntut ‘penghormatan’ dari pengunjung saat masuk ke bangunan dengan mempersilahkan penggunanya untuk bertepi sejenak dengan adanya kolom di tengah.

Penerapan konsep selasar pada CC juga tergolong berhasil terbukti pada hari kerja maupun libur terdapat para mahasiswa yang sedang beraktivitas pada selasarnya. Aktivitas yang dilakukan sangat bervariasi (akan dibahas pada penekanan fungsi). Kondisi ini dapat memberikan ide bahwa masyarakat yang tinggal di kondisi alam yang cukup baik dan kelembapan udara yang cukup seperti di Bandung dan pada daerah tropis kebanyakan, adanya tempat informal yang terbuka merupakan kebutuhan publik yang perlu mendapat perhatian dalam proses merancang.

Dari konsep-konsep CC seperti digambarkan di atas, bagaimana penerapannya? Apa yang terjadi saat konsep dipertemukan dengan kebutuhan pengguna sebagai subjek utama perancangan? Setelah diadakan wawancara maupun pengisian kuesioner oleh para pengguna bangunan CC yang mayoritas terdiri dari mahasiswa, karyawan, petugas keamanan, dan lain-lain mengenai kenyamanan pengguna terkait dengan aktivitas dan fungsi yang dapat dilakukan di dalamnya maka penulis berkesimpulan bahwa sebagian pengguna sudah merasakan kenyamanan di CC terkait dengan kegiatan yang dilakukan dan aktivitas di dalam CC……berlanjut ke part 2> semangat mahasiswa…….

 

Apa hubungannya? Persatuan Umat Muslim-Perkembangan Teknologi Bangunan & AR Masjid Desember 13, 2009

Sering kita amati di masjid-masjid dan saat shalat Ied bahwa masih banyak umat muslim yang kurang menyadari perlunya merapatkan saf dalam shalat, baik karena ketidaktahuan maupun karena tidak mendalami lebih lanjut.

Menurut Al Quran surat Shaf ayat 4,’Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang rapi (teratur) seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh’. Ayat ini menarik karena jika ditelaah lebih lanjut ternyata barisan yang rapi tidak hanya diperlukan saat shalat, tetapi juga saat berperang di jalanNya.

Perkembangan teknologi termasuk di dalamnya teknologi bangunan dewasa ini berkontribusi dalam perkembangan ilmu arsitektur. Sementara itu, makin banyak masjid-masjid yang dibangun dan membutuhkan perkembangan ilmu arsitektur dan ilmu teknologi bangunan karena untuk mematuhi kaidah-kaidah Islam dalam shalat dan kegiatan lainnya yang biasa dilakukan di masjid, perancang masjid tentu harus mengetahui kaidah-kaidah tersebut dan mencari akal dalam mengatasi permasalahan yang muncul. Salah satu kaidah Islam yang harus dipenuhi dan sering menjadi persoalan adalah kerapatan saf shalat yang telah dibahas sebelumnya.

Untuk apa tulisan ini?

  1. mengetahui kaitan antara berkembangnya teknologi bangunan dan ilmu arsitektur terhadap hubungan persaudaraan antar umat muslim
  2. mengetahui manfaat ilmu teknologi dan arsitektur terhadap persatuan umat
  3. menyadarkan pentingnya kerapatan saf dalam berjamaah demi persatuan umat 
  4. mengasah jiwa para akademisi untuk terus mengembangkan teknologi dan sains demi tercapainya masyarakat yang Islami

2.3 Hukum Saf Terputus Tiang

Berbagai macam hadits mengenai saf terhalang tiang ini, namun dapat disimpulkan. Adapun yg menjadi titik persamaan dan tidak terjadi perselisihan dikalangan ulama:

1}. Bolehnya sholat sendiri diantara dua  tiang

2}Bolehnya Imam sholat jamaah berdiri diantara dua tiang mesjid

3}Bolehnya sholat diantara dua tiang apabila jumlah jamaah sedikit yg tidak melewati apa yang terdapat diantara dua tiang tersebut

4}. Bolehnya membuat shaf bagi para makmum diantara dua tiang apabila jumlah jamaah terlalu banyak yg apabila mereka tidak sholat diantara dua tiang akan menyebabkan mereka sholat diluar mesjid.

 Adapun yg menjadi letak perselisihan adalah para makmum membuat shaf diantara dua tiang dalam keadaan memungkinkan bagi mereka menghindarinya dan tidak menyebabkan mereka sholat diluar masjid. (blog.re.or.id)

…….

Jika dikaji lebih jauh dari pembahasan sebelumnya, perkembangan teknologi bangunan dan arsitektur juga mempengaruhi arsitektur masjid di Indonesia. Menurut preseden yang telah ditelaah yaitu masjid dari tiga zaman yang berbeda dapat disimpulkan bahwa masjid-masjid tersebut semakin kekinian semakin dapat memenuhi kriteria tempat ibadah yang ideal menurut tata letak ruangnya dalam hal ini perletakan tiang. Dengan begitu, hukum saf diantara dua tiang dalam keadaan memungkinkan bagi mereka menghindarinya dan tidak menyebabkan mereka sholat diluar masjid yang masih dipertentangkan ulama semakin lama semakin tidak menjadi masalah sebab dewasa ini sudah ditemukan teknologi agar ruang shalat dapat bebas dari tiang sehingga jamaah tidak terputus. Penyiasatan denah yang berbentuk persegi juga membantu umat agar dapat berlomba-lomba(lebih muat banyak) berada di saf terdepan.

  Maka semakin dekatlah kita dengan terealisasikannya surat As Saf ayat 4,‘Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang rapi (teratur) seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.’ (QS Shaf : 4). Jika kita telah teratur dalam shalat dengan saf yang rapat maka kita akan mempunyai peluang lebih besar untuk teratur dalam kehidupan sehari-hari, dalam jamaah barisan umat muslim. Jika barisan umat sudah rapat maka kita akan menjadi ‘bangunan yang kokoh’

versi tidak lengkap dari sebuah tulisan  ** ***** K**A  but..wahahaha… DISIPLIN itu penting!

 

 

cihuy…about Masjid AtTin taman mini… November 30, 2009

“ Demi AtTin. Az Zaitun, Thur Sina dan Kota (Mekah) yang aman ini. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,…” QS AtTin: 1-7
Masjid AtTin merupakan masjid yang dibangun oleh PT. Birano, sebuah biro arsitektur yang sudah sangat berpengalaman dalam pendesainan masjid. PT. Birano dengan Ir. Ahmad Noe’man sebagai Pricipal Architect ini mempunyai ciri khas pada karya-karyanya yaitu ruang shalat yang bebas kolom dan adanya selasar di sekeliling ruang shalat. Ciri khas ini juga diterapkan pada Masjid At Tin. (sebenarnya ada poto2nya,, tapi…gmn cara ngaplod nya si….?)

Penggunaan selasar merupakan implementasi perwujudan arsitektur beriklim tropis sementara ruang tanpa kolom dirancang berdasarkan hadits Rasul, seperti pemaparan Bapak Ahmad Noe’man, ‘Hadits Rasul mengatakan bahwa shaff (barisan) dalam shalat harus lurus, sehingga ruangan shalat adalah ruang yang lowong (tidak terhalang) dan tidak memiliki kolom. Hadits lain mengatakan bahwa shaff yang paling depan adalah yang terbaik, sehingga denah persegi menjadi pilihan dan ditetapkan kemudian sebagai bujur sangkar, dimana keseimbangan secara ruang dapat tercapai dalam mengatasi shaff tersebut.’.1
Sementara itu, ciri khusus yang membedakan At Tin dengan masjid karya PT. Birano yang lain adalah penggunaan dome yang cenderung dihindari pada karya sebelumnya karena ingin keluar dari bentuk masjid-masjid di Indonesia yang identik dengan dome, terinspirasi oleh Al Quran surat Al Baqarah ayat 170 ”Dan apabila dikatakan pada mereka,;Ikutilah apa yang diturunkan Allah’, mereka menjawab, ‘Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari Bapak-Bapak kami.’ Biarpun Bapak-Bapak mereka tidak mengerti sesuatu dan tidak dapat petunjuk”.1 Atas dasar itulah, Ir. Achmad Noe’man selalu mendesain bentuk-bentuk masjid yang baru pada setiap karyanya. ”Setiap karya selalu berbeda, tidak ada yang diulang,” jelas Pak Noe’man.3
Namun pada Masjid At Tin, untuk memenuhi keinginan klien, digunakan bentuk dome yang ringan dengan menggunakan space frame sebagai strukturnya. Penggunaan space frame untuk dome ini merupakan terobosan baru pada bangunan masjid di Indonesia yang biasanya memakai struktur beton untuk dome sehingga berkesan berat. Bentuk dome pada masjid ini ringan, mudah pemasangannya, namun tetap kokoh.
Masjid At Tin juga menggunakan ornamen-ornamen arabesque pada tiap sudut bangunan seperti pada mihrab, railing tangga, lantai, plafon, pintu kayu jati berukir, relung-relung, kap lampu dan lain-lain. Modul ornamen ini bila disusun ke arah manapun akan selalu menerus tanpa akhir seperti nikmat Allah SWT kepada manusia.1 Ornamen-ornamen ini menyatu dan seirama antara satu sama lainnya menjadikan suatu kesan estetis tersendiri. ….
Menurut Seyyed Husein Nasr, prinsip unitas (At Tauhid) sangat penting dalam arsitektur Islam. Masih menurut beliau, unitas terlihat pada cara berarsitektur Islam memperlakukan eksterior, ruang-ruang interior & pertamanan bangunan. Dalam arsitektur Islam, ketiganya merupakan faset dari satu realitas tunggal.4 Pada Masjid At Tin diterapkan prinsip unitas tersebut. Pada masjid ini, ada 2 modul dasar utama yang diulang-ulang pada setiap detail sudut masjid yaitu persegi dan bintang. Sebagai contoh, modul persegi yang merupakan modul awal dari modul anak panah yang banyak terlihat pada At Tin, jika diperhatikan secara seksama, akan terlihat pada detail bangunan seperti pintu utama, dinding-dinding eksterior maupun interior, penopang pergola, atap selasar terbuka. Sementara itu, modul persegi ini jika terbentuk oleh 2 persegi dan satu persegi diputar 45º, maka akan tercipta modul turunan yaitu modul bintang sederhana yang terdapat pada skylight kaca patri di atas sclupture menuju RSG, plafon, menara, pola lantai selasar terbuka, dll. Modul persegi yang belum mengalami penurunan dari modul awal pun terdapat pada bentuk denah ruang shalat, kap lampu depan ruang wudhu, list plafon, dll.
Mau baca tulisannya yg utuh….hub saya saja (beuhh….berasa penulis T.O.P, demi kenyamanan bersama)

 

PATUHi KAIDAH ARsitekturmu sendiri.#2 Oktober 31, 2009

(lanjutan part1)

Enough Man<katanya mau BANGKIT! Nah, kabar baiknya adalah: jeng jeng jeng,, sadar ato ga, sekarang2 ini,, walaupun mungkin untuk keperluan bisnis pariwisata juga sih, sering denh liat tulisan2, iklan media elektronik n cetak,  yang ngegambarin tetntang kekerenan Indonsia,, yah walo masi karena fisik/alamnya sih..Ohhh, ada juga deng, menang Olimpiade Internasional digembor2in lumayan, terbaru kita jad juara umum,, medalinya banyakan emas, lupa, shock lah begitu denger angkanya, banyak.

FOKUS dong penuis n pembaca!Ok,rasa nasionalisme mestinya ditanamkan dari sejak dini oleh pendidikan formal dan informal. Supaya masyarakat Indonesia ga malu pake budayanya sendiri,biar kalo si anak SMP itu gede dan ada yang jadi arsitek (atau dalam bidang lain) ,mereka ga malu belajar dari budayanya sendiri dan berangkat dari lokalitas dalam mendesain. (ato dalam pekerjaan lain,, sorry kalo terlihat architect wannabe).Malu aja ngeliat budaya Indonesia kaya’ arsitektur  vernakuler, batik, kesenian lain,, bukunya tuh malah bnyakan dari luar negeri yang bikin.Sumpah, MALU!Trus kita malah jadi keBarat2an yang akhirnya ada tetangga sebelah ngaku2 punya hak milik atas budaya kita. Knappa sebaiknya mengangkat lokalitas dalam mendesain,, karena desain ar vernakular di Indonesia yang tropis itu udah lama diujinya , n desain kaya gitu loh yang relevan di terapin di Indonesia, dengan budaya nya yang kaya gini (sesuai daerah mas2), masyarakatnya yang kaya gini, iklimnya yang kaya gini, gempa nya yang sering kaya gini. Jadi kalo mau bikin bangunan yah ga perlu berpikir dari awal lagi. Karena studinya udah dilakukan oleh nenek moyang kita dan udah teruji berdasarkan pengalaman, ya tinggal dilanjutin aja toh studinya dan direlevankan untuk masa kini, karena ya emang perkembangan zaman ini mo ga mau mentransformasi  budaya kita, sedikit demi sedikit. Taapi kan yang paling deket ya menyesuaikan ke ar lokal, yang ada pada lintang dan bujur yang sama,, jadi bedanya pun ga sesignifikan kalo Indonesia dibandingin ama Barat,, yang suka jadi acuan orang2 kita dalam mendesain. Waktu jaman majapahit misalnya,, sama2 sering ujan dan panas aja kan(bukan 4 musim), gempa. Walopun ada juga yang berubah adatnya, angin di kota besar jadi ga seger karna polusi dll.Makanya itu ada transformasi ar sendiri,, jadi AR vernakuler tradisionalnya ya ngga ditelen mentah2, disesuaikan lah dengan jaman sekarang.

Terus tentang rumah seng yag berpotensi jadi vernakular gimana?

Lgi2 mw sharing pemikiran sendiri,ada rumah seng karena apa? Ga punya duit u bikin rumah yang standar hidup nya terpenuhi,knapa? Karena belum PD untuk pake produk sendiri, dalam hal ini contonhya budaya, yang unique itu, yang ga dipunyai sama bangsa lain, padahal kalo kita bisa mendalami budaya Indonesia yang berakar pada lokalitas dan menjualnya ke bangsa lain (maksudnya bukan dijual hak ciptannya tapi menjual hasil produk kerajinan ato pertunjukan tradisional ditonton n tiketnya yang dibeli londo2 misalnya, atau memberi kesempatan wisatawan untuk merasakan tinggal di dalam rumah Hanoi dengan biaya penginapan), kita bisa KAYA. (duh ekonomis bgt si).emang kita lagi perlu duit bo, untuk peningkatan kualitas hidup manusia dari segala sisi, termasuk imtaq.(Gimana mw ngomong ideologi sama orang2 yang perutnya kosong?)  nah, trus kalo kita udah kaya karena berhasil ‘menjual’ budaya kita itu…mmm…lebih tepatnya meminjamkan kali ya…n promosi juga,, membiarkan orang lain ikut merasakan…Mulailah ekonomi itu tumbuh,,manusianya sejahtera jadi ga tinggal di rumah kardus lagi dong,, dan AR vernakuler kita tetep yang dulu atau transformasi dari yang dulu udah diriset ama nene moyang, yang sesuai sama Indonesia..Bukannya rumah kardus ato seeng dengan latar belakang ga punya duit buat ngebangun yang lain itu. Jadi kan lebih beradab AR vernakulernya. Malu dong kalo ditanya 200 tahun lagi. Why INDONESIAN vernakular architecture material is zinc?:Huh, it’s just because we don’t have money to buy anything else. But actually it’s very hot, n with the other material like ‘kardus’, we can feel the swimming pool in our tiny house.’

So, LOVE INDONESIA. IT’S start FROM Your Heart.INDONESIA, i just love to be the part of U.  GAPAPA dong kalo english nya tidak sesuai kaidah,, kan gw orang Indonesia,, bukan British ato american.Seneng deh bisa jadi ORANG INDONESIA.

 

PATUHi KAIDAH ARsitekturmu sendiri.#1 Oktober 31, 2009

Tidak mematuhi kaidah arsitekturmu sendiri….Itu rasa pada racikan Arsitektur Indonesia yang kulihat di banyak pusat kota besar Indonesia dewasa ini. Bangunan high rise menjulang tinggi dengan fasade dominasi kaca yang merefleksikan keadaan sekitarnya, dengan ujung menara yang berbentuk dome atau meruncing, mengingatkan pada tubuh – tubuh kota masa Renaissance di Barat dan bentuk-bentuk nostalgia lain yang juga diteplok dari bangsa lain. Wajarlah, high rise, masa’ iya atap menaranya joglo, begitu kata orang-orang bilang. Pembenaran? Bisa jadi, hanya saja aku belum punya pengetahuan cukup untuk medalaminya dengan ‘kekuatan ketikan’ku.

Lalu bagaimana dengan rumah-rumah mungil pada setiap sudut jalan yang kutemukan di sepanjang kompleks perumahan elite? Mengapa mereka terlihat asing, berbentuk seperti ‘takseharusnyaditempatkandisana’. Atau saja gaya visualku yang aneh dan tak memandang sebagaimana biasa. Mereka terlihat bukan milik aku, kamu juga, kita, INDONESIA. Aku tak pernah ingat pernah melihatnya di buku-buku yang menceritakan tradisional Indonesia. Mereka bukan dari Jaawa, Sunda, Padang, Dayak, Papua. Bali? Apalagi. Ada yang jendelanya bulat, sederhana memang, dengan taman di depannya yang dominan abu-abu, kering, cocoknya sih untuk kontemplasi. Atau sering juga aku dibuat pusing dengan kolom a.k.a tiang yang banyak dekorasi yang printil2 nya kelihatan hanya mengikuti, Yang selanjutnya ya itu tadi, atap dome entah dari mana datangnya. Dome ini pun sering kuamati saat melintasi daerahku di Bekasi, Besar, pusat belanja, dengan gaya klasik eropa. Bagus sih,, tapi kalo ditaruh di Eropa.Ini indonesia, Bung!

 Emang mau nya kaya gimana?

 Indonesia sangat luas, besar, kaya. Entah berapa bentuk kekayaan sudah yang dipunyai negeri ini. Bicara soal SDA, SDM, laut, tanah subur , angin tropis yang menggiurkan, banyak nya suku dari sabang sampai maerauke yang telah membentuk budaya, bahasa, adat, rumah tinggal, kepercayaan, kerajinan, kesenian dari tari-tarian hingga seni masakan, tanaman hidup,, bahkan kulihat di gedung kuliahku dari lantai 3 pun, aku bisa melihat ada tanaman hijau yag tumbuh dari saluran air di pinggir atap. Entah darimana ia mendapat jatah makanannya. Berkeliling Taman Mini Indonesiaa Indah saja,, dapat mengamati bangsamu ini dari perspektif lain, dari segi yang baik. KITA SANGAT KAYA RAYA. Ada yang bilang,’yah, susah juga dibilang begitu, pada kenyataannya kita, baru saja kemarin di televisi ada kabar presiden bertemu dengan kepala negara Jepang, apa yng didapat? Hutang, lumayan lah buat nambal2 yang dulu.’ Gaaah…..Liat aja pengemis dimana-mana, bantaran sungai ada perkampungan, mending menarik dikunjungi wisatawan,, bukan, ini gubuk reyot dari seng ato kardus bekas,, banyak lagi, bah,, mata jadi setep.’ mMM…sadarkah? sebenarnya justru si gubuk2 seng atu kardus ini loh yang berpotensi jadi aset vernakular kita yang baru. Yaiyalah,, coba aja liat cri-ciri vernakular, material lokal dari apa yang ada di sekitar, tanpa arsitek, terbentuk pelan-pelan, dibangun oleh masyarakatnya sendiri alias self-help. Tuhhkaaan bener,, itu tu yag namanya vernakular.

‘Apa hubungannya sih, bangunan asing, nasionalisme, budaya tradisional Indonesia, ama rumah seng yang berpotensi vernakular. Koq muter2 sih ni tulisan, bosen ah, bacanya jadi mual…’

Yah terserah si, emang ga terstruktur tapi ingin sharing aja. Kalo mau dirunutkan,, pemikiran ini menjadi: mengapa ada bangunan asing terbangun di segenap penjuru Indonesia?Karena rasa nasionalisme di Indonesia ini kurang, waktu jaman SMP aja, guru Kewarganegaraan sendiri koq yang menyindir2 tentang kekurangan bangsa ini di depan murid-murid nya yang masi polos itu, yang menanggapi dengan tertawaan ringan aja. Koq aib sendiri dibuka-buka sih. Pembelajaran dan motivasi?Setau gw pembelajaran itu dari contoh/ preseden baik deh. Ya,, baru menurut pemikiran penulis, pendidikan sejak kecil-lah yang mendorong keminderan bangsa ini untuk mengakui budaya nya sendiri, rasa nasionalismenya jadi kurang, udah berapa banyak si denger orang yang bahasa eleknya ‘ngata2in’ bangsa sendiri. Bukan Cuma orang biasa, pemuda generasi penerus, ampe mantan ketua MPR pun pernah penulis gap dengan mata, telinga, hati sendiri, di depan umum pula, memberikan pandangan nya yang buruk mengenai Indonesia.

 Enough Man,,(lanjut ke part 2)

 

Sayembara Rumah Malang-an —dari architecturina.blogspot.com Agustus 15, 2009

Filed under: arsitektur,Uncategorized — ardasothie @ 10:00 am
Tags: , , , , , , , , , , ,

Sayembara Rumah Malang-an yang diadakan oleh Kantor Perumahan Kabupaten Malang, Fakultas Teknik Sipil ITN Malang dan REI Malang Raya telah mengumumkan pemenangnya pada 29 November lalu. Berikut sedikit review dari salah satu karya yang berhasil meraih juara ketiga pada sayembara ini.
Karya desain Ade Yudirianto ini yang mencoba menggabungkan isu budaya, sosial serta desain arsitektur dan menuangkannya ke dalam ruang tinggal rumah ini cukup berhasil mereinterpretasi konteks lokalitas rumah Malangan ke dalam konteks budaya kekinian. Organisasi ruang yang terstruktur jelas memisahkan hirarki ruang publik dan privat, alur aktifitas dan budaya Malang-an pun tidak pula dilupakan. Ekplorasi material juga turut memperkaya konteks lokalitas pada rumah karya Ade ini.
Satu hal yang menurut saya pribadi menjadi nilai tambah dari desain ini adalah kepekaan dari sang desainer tentang pentingnya sebuah ruang yang menentukan kualitas hidup, tentunya tanpa menghiraukan penampilan dari arsitekturnya itu sendiri.

Terlepas dari isu kualitas desain ini, ternyata ada isu lain yang lebih penting menurut dewan juri yang perlu dipertimbangkan, yang memang (seperti kata Ade) terkadang terlupakan Arsitek (meskipun menurut saya isu ini sangat debatable). Simak catatan beliau dibawah mengenai isu pembangunan (kota dan) desa ini yang terkadang terlupakan.

Sayembara Malangan : berdiri diantara kota dan desa

*oleh Ade Yudirianto

Ini adalah catatan tentang sayembara rumah khas malangan tanggal 29 Nov lalu….

Dewan juri yang berjumlah 9 orang akhirnya memutuskan tidak ada yang menduduki juara 1. Tidak ada nominator yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh TOR dan para juri. Keputusan ini tidaklah mengejutkan karena memang sebelumnya Josef Prijotomo memaparkan kesalahan utama para nominator; meletakkan kajian rumah pada setting kota padahal yang diminta adalah rumah khas KABUPATEN MALANG yang notabene berasal dari desa agraris. ” Apakah dunia pendidikan arsitektur yang cenderung mengarahkan mahasiswanya terfokus pada kota ataukah publikasi mengenai desa sendiri yang kurang? ” Berikut adalah pernyataan dari Josef P terhadap entry-entry sayembara yang masuk.

Sekalipun demikian, juara 2, 3 dan harapan tetaplah ada. Namun dengan catatan bahwa seluruh peserta tersebut haruslah mnyempurnakan konsep desain mereka, dimodali dengan hadiah juara 1 sebesar 7,5 juta. (kerja dua kali deh jadinya…).
 
Saya sendiri merasa tidak puas dengan hasil yang ada, baik dari karya pemenang maupun dari karya saya sendiri. Ketidak puasan ini semata-mata karena kelalaian terhadap memandang masalah kota dan desa. Dari sini saya belajar bahwa kadang kita (arsitek) seringkali berlaku tidak adil pada masyarakat desa. Terlalu asyik mengurusi kota sehingga kurang berkutik bila disodorkan masalah pedesaan.

Apakah desa akan ditinggalkan sehingga kota menjadi ajang berkumpulnya orang2? ataukah kita mulai melihat desa sebagai investasi masa depan saat keruwetan kota mengharuskan pemindahan dan perencanaan wilayah baru di masa yang akan datang. masalahnya adalah…apakah kita tetap akan menggunakan mindset city planning dalam mengolah desa-desa nantinya? seperti halnya peserta sayembara rumah Malangan yang mengambil sampel dari kota untuk dipakai di desa??
 
3rd prize award is enough for me….though i felt that the prize should be for the right person, not me….


Great job Ade.
Comments & critics are welcome.. or maybe you care to score it?

 

by Andik 0 komentar  

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.